Karakteristik Danau
Karakteristik
danau
Morfologi dan hidrologi danau sangat
mempengaruhi daya tampung danau, khususnya karakteristik laju pembilasan air
atau waktu tinggal air, yang tergantung kepada volume danau dan debit air
keluar danau. Danau yang memiliki waktu tinggal air kurang dari 20 hari
mempunyai kemampuan pencampuran air sehingga plankton tidak dapat tumbuh.
Sedangkan danau yang memiliki waktu tinggal air antara 20 sampai 300 hari
menyebabkan terjadinya proses stratifikasi. Apabila waktu tinggalnya lebih dari
300 hari akan terjadi stratifikasi yang stabil, serta dapat terjadi akumulasi
unsur hara dan pertumbuhan plankton yang menjurus kepada proses eutrofikasi.
Ekosistem danau termasuk habitat air tawar yang memiliki perairan tenang yang dicirikan oleh adanya arus yang sangat lambat sekitar 0,1-1 cm/detik atau tidak ada arus sama sekali. Oleh karena itu residence time (waktu tinggal) air bisa berlangsung lebih lama. Adanya penyerapan cahaya oleh air danau akan menyebabkan terjadinya lapisan air yang mempunyai suhu yang berbeda. Bagian lapisan yang lebih hangat biasanya berada pada daerah eufotik, sedangkan lapisan yang lebih dingin biasanya berada di bagian afotik (bagian bawah). Di perairan danau, oksigen lebih banyak dihasilkan oleh fotosintesis alga yang banyak terdapat pada zone epilimnion, sedangkan pada perairan tergenang yang dangkal dan banyak ditumbuhi tanaman air pada zone litoral, keberadaaan oksigen lebih banyak dihasilkan oleh aktivitas fotosintesis tumbuhan air. Perairan danau biasanya memiliki stratifikasi vertikal kualitas air yang bergantung pada kedalaman dan musim.
Sesuai
dengan pengertiannya bahwa danau adalah suatu cekungan pada permukaan bumi yang
berisi air, danau memiliki kedalaman cekungan yang berbeda-beda. Oleh karena
itu, muncul istilah kategori kedalaman danau. Danau dikategorikan sebagai danau
yang sangat dangkal jika memiliki kedalaman kurang dari 10 meter. Jika
kedalamannya antara 10 sampai dengan 50 meter maka termasuk kategori danau
dangkal. Danau dengan kedalaman 50 sampai dengan 100 meter merupakan kategori
medium. Sedangkan kategori danau yang dalam yaitu jika danau memiliki kedalaman
100 sampai dengan 200 meter.
Macam-Macam Danau
Menurut
Hutchinson & Loffler, 1956 dalam Barus, 2004, air danau dapat dibedakan
berdasarkan pola pencampuran/sirkulasi. Pencampuran yang terjadi karena adanya
beda bobot air pada besaran temperatur yang berbeda. Air dengan bobot yang
lebih ringan akan berada di bagian permukaan sedangkan air dengan bobot yang
lebih berat akan berada di bagian yang lebih bawah.
Pengelompokan
danau berdasarkan pola pencampuran/sirkulasi airnya adalah sebagai berikut.
a. Amiktis
Amiktis yaitu danau yang terdapat di daerah kutub,
terutama di antartik dan sebagian kecil di arktik (Greenland) yang secara
permanen tertutup oleh salju.
b. Monomiktis dingin
Monomiktis dingin yaitu danau yang terdapat di daerah
kutub dan sub kutub yang mengalami sirkulasi/ pencampuran secara sempurna hanya
pada musim panas, sementara pada musim yang lain mengalami stagnasi winter
dengan penutupan lapisan salju pada permukaan.
c. Dimiktis
Dimiktis yaitu danau-danau yang terdapat di daerah
temperata di bagian utara dari Amerika Utara yang mengalami sirkulasi sempurna
pada saat musim gugur dan musim semi.
d. Monomiktis panas
Monomiktis panas yaitu danau yang terdapat di daerah
subtropis yang mengalami sirkulasi hanya pada musim dingin dan apabila
permukaan air cukup mengalami pendinginan misalnya Bodensee yang terdapat di
Jerman.
e. Oligomiktis
Oligomiktis yaitu danau di daerah tropis yang sangat
jarang mengalami sirkulasi yang sempurna.
f. Polimiktis panas
Polimiktis panas yaitu danau di daerah tropis yang
mengalami sirkulasi sempurna apabila terjadi penurunan temperatur yang sangat
drastis.
g. Polimiktis dingin
Polimiktis dingin yaitu danau-danau tropis yang
terdapat di pegunungan yang tinggi dan selalu mengalami sirkulasi sempurna,
umumnya adalah danau-danau yang terdapat pada ketinggian sekitar 3000 meter
dpl.
Asal mula danau bermacam-macam, ada yang berasal dari
patahan lempeng bumi, gejala vulkan, buatan manusia, dan masih banyak yang
lain-lainnya. Oleh karena itu, selain dibedakan berdasarkan pola pencampurannya
seperti yang telah diuraikan di depan, danau juga dapat digolongkan berdasarkan
proses terjadinya.
Penggolongan tersebut adalah sebagai berikut.
a. Danau Tektonik
Danau ini terjadi akibat adanya aktivitas/peristiwa
tektonik yang mengakibatkan permukaan tanah pada lapisan kulit bumi turun ke
bawah membentuk cekung dan akhirnya terisi air. Contohnya yaitu Danau
Singkarak, Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
b. Danau Vulkanik
Danau ini terbentuk karena adanya aktivitas gunung
berapi. Danau ini biasanya terdapat pada bekas kawah gunung berapi. Contohnya
yaitu Danau Batur di Bali.
c. Danau Tektovulkanik
Danau ini terbentuk karena adanya akivitas tektonisme
dan vulkanisme.akibat dua aktivitas ini maka terbentuklah danau tektovulkanik.
Contohnya adalah Danau Toba di Sumatera Utara.
d. Danau Bendungan Alami
Danau ini dapat terbentuk karena aliran lava saat
erupsi terjadi yang membendung aliran air sungai. Contohnya adalah Danau
Pengilon, pegunungan Dieng, Jawa Tengah.
e. Danau Karst
Danau ini dijumpai di daerah dominan batu kapur. Danau
ini terbentuk akibat pelarutan tanah kapur. Danau ini banyak di temukan di
Pegunungan Seribu, Yogyakarta.
f. Danau Glasial
Danau ini akibat mencairnya es atau keringnya daerah
es yang kemudian terisi air.
g. Danau Buatan
Danau ini dibuat oleh manusia. Danau buatan ini
disebut waduk. Contohnya adalah Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri Jateng.
Berdasarkan proses kejadiannya danau dibedakan menjadi 6 macam yaitu danau: Tektonik, Vulkanik, Tektono-Vulkanik, Karst, Glasial dan Waduk atau Bendungan.
1) Danau
Tektonik, yaitu danau yang terjadi akibat adanya peristiwa tektonik seperti
gempa.
Akibat gempa terjadi proses patahan (fault) pada permukaan tanah.
Permukaan tanah yang patah mengalami pemerosotan atau ambles (subsidence) dan
menjadi cekung. Selanjutnya bagian yang cekung karena ambles tersebut terisi
air dan terbentuklah danau. Danau jenis ini contohnya danau Poso, danau Tempe,
danau Tondano, dan danau Towuti di Sulawesi. Danau Singkarak, danau Maninjau,
dan danau Takengon di Sumatera.
2) Danau
Vulkanik atau danau Kawah, yaitu danau yang terdapat pada kawah lubang
kepunden bekas letusan gunung berapi. Ketika gunung meletus batuan yang menutup
kawasan kepunden rontok dan meninggalkan bekas lubang di sana. Ketika terjadi
hujan lubang tersebut terisi air dan membentuk sebuah danau.
Contoh danau
jenis ini ialah danau Kelimutu di Flores, Kawah Bromo, danau gunung Lamongan di
Jawa Timur, danau Batur di Bali danau Kerinci di Sumatera Barat serta Kawah
gunung Kelud.
3) Danau
Tektono-Vulkanik, yaitu danau yang terjadi akibat proses gabungan antara
proses vulkanik dengan proses tektonik. Ketika gunung berapi meletus, sebagian
tanah/batuan yang menutupi gunung patah dan merosot membentuk cekungan.
Selanjutnya cekungan tersebut terisi air dan terbentuklah danau. Contoh danau
jenis ini
adalah danau Toba di Sumatera Utara.
4) Danau
Karst. Danau jenis ini disebut juga Doline, yaitu danau yang
terdapat di daerah berbatu kapur. Danau jenis ini terjadi akibat adanya erosi
atau pelarutan batu kapur. Bekas erosi membentuk cekungan dan cekungan terisi
air sehingga terbentuklah danau.
5) Danau
Glasial, danau yang terjadi karena adanya erosi gletser. Pencairan
es akibat erosi mengisi cekungan-cekungan yang dilewati sehingga terbentuk
danau. Contoh danau jenis ini terdapat di perbatasan antara Amerika dengan Kanada
yaitu danau Superior, danau Michigan dan danau Ontario.
6) Waduk
atau Bendungan, adalah danau yang sengaja dibuat oleh manusia. Pembuatan
waduk biasanya berkaitan dengan kepentingan pengadaan listrik tenaga air,
perikanan, pertanian dan rekreasi. Contoh danau jenis ini misalnya Saguling,
Citarum dan Jatiluhur di Jawa Barat, Riam Kanan dan Riam Kiri di Kalimantan
Selatan, Rawa Pening, Kedung Ombo dan Gajah Mungkur di Jawa Tengah.
Danau dapat
diklasifikasikan berdasarkan produktifitas primernya. Produktifitas atau
kesuburan danau tergantung pada nutrisi yang diterimanya dari perairan regional,
pada usia geologis dan pada kedalaman. Berdasarkan produktifitas, danau dibagi
atas danau
oligotrofik
dan
eutrofik
. Danau oligotrofik biasanya dalam, dengan hipolimnion lebih besar dari epilimnion, dan mempunyai produktifitas primer rendah. Tanaman di daerah littoral jarang dan kerapatan plankton rendah, walaupun jumlah jenis yang ada mungkin tinggi. Danau eutrofik adalah lebih dangkal dan produktifitas primernya lebih tinggi, vegetasi littoral lebih lebat dan populasi plankton lebih rapat (Odum, 1971).
oligotrofik
dan
eutrofik
. Danau oligotrofik biasanya dalam, dengan hipolimnion lebih besar dari epilimnion, dan mempunyai produktifitas primer rendah. Tanaman di daerah littoral jarang dan kerapatan plankton rendah, walaupun jumlah jenis yang ada mungkin tinggi. Danau eutrofik adalah lebih dangkal dan produktifitas primernya lebih tinggi, vegetasi littoral lebih lebat dan populasi plankton lebih rapat (Odum, 1971).
Selanjutnya
Thohir (1991) dan Soeriaatmaja (1981) mengungkapkan fase-fase perkembangan
kehidupan di danau, yang terdiri dari: oligotrofi, mesotrofi, eutrofi
dan distrofi. Danau oligotrofi, keadaan airnya jernih, bahan
organik yang dikandung sedikit, kerapatan hewan dan tumbuhan rendah, suhu air
relatif rendah, bahan makanan sedikit tetapi kaya oksigen. Danau oligotrofi
lama kelamaan akan meningkat aktifitas biologisnya dan menjadi danau
mesotrofi, dimana air menjadi lebih keruh, produksi bahan organik
bertambah, kesuburan danau lebih tinggi namun belum mencapai kesuburan optimal.
Jika kesuburan danau telah mencapai titik optimal, danau tersebut disebut danau
eutrofi.
Sedangkan
menurut Goldmen dan Horne (1989), berdasarkan kandungan hara (tingkat kesuburan)
danau diklasifikasikan dalam 3 jenis, yaitu: danau eutrofik, danau oligotrofik
dan danau mesotrofik. Danau eutropik (kadar hara tinggi) merupakan danau
yang memiliki perairan yang dangkal, tumbuhan litoral melimpah, kepadatan
plankton lebih tinggi, sering terjadi blooming alga dengan tingkat
penetrasi cahaya matahari umumnya rendah. Sementara itu, danau oligotropik
adalah danau dengan kadar hara rendah, biasanya memiliki perairan yang dalam,
dengan bagian hipolimnion lebih besar dibandingkan dengan bagian epilimnion.
Semakin
dalam danau tersebut semakin tidak subur, tumbuhan litoral jarang dan kepadatan
plankton rendah, tetapi jumlah spesiesnya tinggi. Danau mesotropik merupakan
danau dengan kadar nutrien sedang, juga merupakan peralihan antara kedua sifat
danau eutrofik dan danau oligotrofik.
Danau
oligotrofik dapat berkembang menjadi danau eutrofik akibat adanya materi-materi
organik yang masuk dan endapan. Perubahan ini juga dapat dipercepat oleh
aktivitas manusia, misalnya dari sisa-sisa pupuk buatan pertanian dan timbunan
sampah kota yang memperkaya danau dengan buangan sejumlah nitrogen dan fosfor.
Akibatnya terjadi peledakan populasi ganggang atau blooming, sehingga terjadi
produksi detritus yang berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di
danau tersebut. Pengkayaan danau seperti ini disebut "eutrofikasi".
Eutrofikasi membuat air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai
keindahan danau.
Pada air
eutrofik alami, plankton berlimpah, perkembangan ganggang merupakan hal yang
umum. Terdapat imbangan yang baik pada bahan-bahan organik baik dalam larutan
maupun pada dasarnya. Eutrofikasi menjadi sebuah masalah jika disebabkan oleh
campur tangan manusia, karena hal-hal yang seperti inilah jangka waktu menjadi
berkurang sehingga keseimbangan secara sehingga keseimbangan secara alami
berkurang (Michael, 1994).
Eutrofikasi
buatan sebagai hasil kegiatan manusia menambah kekurangan oksigen dalam zone
profundal. Jadi ikan yang stenotermal, yang dapat bertahan pada suhu rendah,
hanya hidup dalam danau "miskin", dimana air di bagian dalam yang
dingin tidak kekurangan oksigen. Jenis-jenis seperti ini adalah yang pertama
kali menghilang di Great Lakes di Amerika serikat. Organisme rendah (berlawanan
dengan ikan) dari zone profundal beradaptasi untuk tahan terhadap kekurangan
oksigen dalam jangka waktu yang panjang (Odum, 1991).
Diutarakan
juga oleh Conell dan Miller (1988), bahwa kegiatan manusia sangat mempengaruhi
pengkayaan unsur hara dan eutrofikasi. Pada kenyataanya, dalam waktu 100 tahun
terakhir banyak danau yang memperlihatkan pengkayaan unsur hara sangat cepat
yang disebabkan oleh pencemran. Buangan, seperti limbah rumah tangga, aliran
dari bak penampungan kotoran, beberapa limbah industri, aliran dari perkotaan,
aliran dari pertanian dan pengelolaan hutan, serta limbah hewan mengandung
unsur hara tanaman yang seringkali menyebabkan pengkayaan unsur hara dan
mempercepat eutrofikasi
Menurut
Michael (1994), pengaruh terbesar eutrofikasi terlihat pada air-air yang
tenang, hasil yang nyata adalah suatu perkembangan ganggang. Seringkali lapisan
ganggang dan kotoran bebek menutupi seluruh permukaan yang menyebabkan
deoksigenasi pada air-air dibawahnya dimana fotosintesis berhenti disebabkan
putusnya pencahayaan oleh lapisan ganggang. Pada saat ganggang ini mati dan
terurai, terjadi penurunan oksigen yang terurai lebih lanjut
ZONASI DANAU
· Litoral
Litoral merupakan bagian dari zona benthal yang masih
dapat ditembus oleh cahaya matahari. Daerah ini merupakan daerah dangkal.
Cahaya matahari menembus dengan optimal. Pada zona litoral, produser utamanya
adalah tanaman yang berakar (anggota spermatophyta) dan tanaman yang tidak
berakar (fitoplankton, ganggang dan tanaman hijau yang mengapung). Sedangkan
konsumernya meliputi beberapa larva serangga air seperti, platyhelminthes,
rotifer, oligochaeta, moluska, amphibi, ikan, penyu, ular dan lain sebagainya.
· Limnetik
Daerah ini merupakan daerah air bebas yang jauh dari
tepi dan masih dapat ditembus sinar matahari. Fotosintesis dapat terjadi secara
maksimal dan konsentrasi oksigen (O2) lebih besar dari
karbondioksida (CO2). Pada zone limnetik, produsernya terutama
fitoplankton dan tumbuhan air yang terapung bebas seperti, water hyacinth
(Eichornia crassipes), Cerratophyllum spp, Utricularia spp, Hydrilla
verticillata, duckweed (Lemna spp); dan vascular plants, seperti: Equisetum
spp; Ioetes spp dan Azolla spp. Sedangkan konsumernya meliputi zooplankton dari
copepoda, rotifera dan beberapa jenis ikan.
· Profundal
Zona profundal merupakan bagian dari zona benthal di
bagian perairan yang dalam dan tidak dapat ditembus lagi oleh cahaya matahari.
Pada zona profundal, banyak dihuni oleh jenis-jenis bakteri dan fungi, cacing
darah, yang meliputi larva chironomidae, dan annelida yang banyak mengandung
haemoglobin, jenis-jenis kerang kecil seperti anggota famili sphaeridae dan
larva "phantom" atau Chaoboras (corethra).
· Bentik
Zona bentik merupakan daerah dasar danau tempat
terdapatnya bentos dan sisa-sisa organisme mati.
Pembagian Berdasarkan Pencahayaan
a) Fotik
Daerah di bagian atas, dimana di
daerah tersebut dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis.
b) Afotik
Daerah di bagian bawah, dimana di
daerah tersebut tidak dapat ditembus cahaya matahari.
ORGANISME DANAU
Organisme yang hidup di danau pada umumnya telah
beradaptasi. Adaptasi organisme danau adalah sebagai berikut.
a. Adaptasi tumbuhan
Tumbuhan yang hidup di danau
biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat seperti beberapa alga biru dan
alga hijau. Air masuk ke dalam sel hingga maksimum dan akan berhenti sendiri.
Tumbuhan tingkat tinggi, seperti teratai (Nymphaea gigantea), mempunyai akar
jangkar (akar sulur). Hewan dan tumbuhan rendah yang hidup di habitat air,
tekanan osmosisnya sama dengan tekanan osmosis lingkungan atau isotonis.
b. Adaptasi hewan
Ekosistem danau dihuni oleh berbagai
organisme. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem danau, misalnya salah
satunya seperti ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan
osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem
ekskresi, insang, dan pencernaan.
o Plankton
Plankton termasuk golongan jasad
hidup akuatik berukuran mikroskopik, biasanya berenang atau tersuspensi dalam
air, tidak bergerak atau hanya bergerak sedikit untuk melawan/ mengikuti arus.
Dibedakan menjadi 2 golongan, yakni golongan tumbuhan/ fitoplankton (plankton
nabati) yang umumnya mempunyai klorofil dan golongan hewan/ zooplankton
(plankton hewani). Menurut habitat, plankton dapat dibedakan menjadi plankton
laut dan plankton air tawar.
o Nekton
Nekton merupakan organisme yang
mampu bergerak bebas.
o Bentos
Bentos merupakan organisme yang
hidup pada substrat dasar perairan. Sebagaimana kehidupan biota lainnya,
penyebaran jenis dan populasi komunitas bentos ditentukan oleh sifat fisika,
kimia dan biologi perairan. Sifat fisik perairan seperti pasang surut, kedalaman,
kecepatan arus, warna, kekeruhan atau kecerahan dan suhu air. Sifat kimia
perairan antara lain, kandungan gas terlarut, bahan organik, pH, kandungan hara
dan faktor biologi yang berpengaruh adalah komposisi jenis hewan dalam perairan
diantaranya adalah produsen yang merupakan sumber makanan bagi hewan bentos dan
hewan predator yang akan mempengaruhi kelimpahan bentos.
o Pleuston
Pleuston merupakan organisme yang
hidupnya melayang-layang di permukaan air.
o Neuston
Neuston merupakan mikroorganisme
yang hidup pada permukaan suatu perairan.
o Pagon
Pagon merupakan organisme yang mampu
hidup dalam kondisi perairan yang membeku.
o Perifiton
Perifiton adalah nama yang diberikan
pada kelompok berbagai organisme yang tumbuh atau hidup pada permukaan bebas
dari benda yang melayang dalam air seperti tanaman, kayu, batu dan sebagainya.
Meskipun perifiton umumnya diperlakukan sebagai bentos, ini bukanlah ciri khas
komunitas tersebut dalam hal tertentu. Ia hadir sangat banyak pada substrat
apapun, misalnya ujung kayu yang berada dalam air beberapa centimeter dari
dasar. Juga diketahui bahwa beberapa organisme yang membentuk perifiton jika
dicuci atau dibersihkan, penunjangnya dapat menjadi bagian dari plankton.
Pola adaptasi organisme perairan tergenang
Menurut Odum
(1971), pola adaptasi organisme perairan tergenang diantaranya cenderung
mengendap di dasar terutama untuk bentos, mudah mengapung untuk mendapat
makanan, dan biasanya hidup soliter karena adanya arus yang lambat. Menurut
Odum (1971) mengacu dalam Suryasa (1997), komposisi jenis-jenis organisme
perairan tergenang yaitu dominansi plankton, perifiton, benthos yang sangat
sedikit, neuston dan nekton yang hidup berpindah-pindah.
Menurut
Barus (2004:24) organisme yang terdapat di danau dapat berupa nekton, benthos,
neuston, pleuston pagon, dan plankton. Semua organism tersebut mempunyai pola
adaptasi tersendiri agar bias tetap hidup di perairan tergenang seperti danau.
Nekton mampu bergerak bebas di perairan tergenang seperti danau, sedangkan bentos
akan lebih banyak ditemui di dasar danau karena mereka beradaptasi dengan
mengendap di dasar danau. Plankton hidup melayang-layang di permukaan air,
begitu pula dengan pleuston. Namun pergerakan plankton tersebut dipengaruhi
oleh gerakan air danau. Sedangkan neuston adalah mikroorganisme yang hidup di
permukaan danau. Sedangkan pagon yang dapat hidup di perairan yang beku, hanya
dapat ditemui di daerah yang memiliki iklim dingin.
Komponen penyusun ekosistem perairan danau
Dilihat dari susunan dan fungsinya, suatu ekosistem
tersusun atas komponen sebagai berikut :
1. Bahan hidup (biotik)
• Komponen autotrof
Autotrof adalah organisme yang mampu
menyediakan/mensintesismakanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan
anorganik denganbantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof
berfungsi sebagaiprodusen, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau.
• Komponen heterotrof
Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan
bahan-bahanorganik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme
lain.Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba
2. Bahan tak hidup (abiotik)
Bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang
terdiri dari tanah, air,udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium
atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.
3. Pengurai (dekomposer)
Pengurai adalah organisme heterotrof yang menguraikan
bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan organik kompleks).
Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan
bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Yang
termasuk pengurai adalah bakteri dan jamur.
Komponen Rantai Makanan di Danau
Komponen penyusun ekosistem pada danau sama dengan
komponen penyusunekosistem lainnya. Yaitu terdiri dari produsen, konsumen dalam
berbagai tingkatan dan pengurai. Akan tetapi, memiliki penjelasan yang berbeda
sebagai berikut
1. Produsen
Tumbuhan alga dan fitoplankton adalah produsen makanan
di dalam rantai makanan di danau. Tumbuhan alga menyerupai tanaman, umumnya
berwarna hijau dan melekat di bebatuan atau dasar danau yang masih terpapar
cahaya matahari. Ada juga alga yang menyerupai lumut namun berlendir sehingga
membuat bebatuan di danau menjadi licin. Contoh tumbuhan alga adalah lidah
tiung. Fitoplankton hidup melayang-layang di air. Ia hanya bisa dilihat melalui
mikroskop. Sama seperti alga, fitoplankton mampu berfotosintesis karena
memiliki klorofil untuk membuat makanannya sendiri dengan bantuan cahaya matahari.
Oleh karena itulah, fitoplankton memegang peranan penting dalam rantai makanan
di danau. Contoh fitoplankton yang hidup di danau adalah sianobakteri, diatom
dan dinoflagelata.
2. Konsumen
Konsumen di ekosistem danau ada tiga tingkat yaitu :
a. Konsumen I
Zooplankton adalah hewan air yang
kecil seperti kutu air dan rebon. Mereka memakan fitoplankton karena itulah
disebut sebagai konsumen tingkat I dalam rantai makanan di danau. Mereka
termasuk hewan herbivora karena memakan produsen yang memiliki sifat seperti
tumbuhan.
b. Konsumen II
Konsumen di posisi kedua pada rantai
makanan di danau adalah pemakan zooplankton. Contohnya ikan kecil atau
anak-anak ikan ; beberapa zooplankton seperti larva capung, dan lalat kadas ;
serta berudu. Mereka disebut omnivora karena memakan tumbuhan danhewan lain.
c. Konsumen III
Konsumen ketiga dan seterusnya
adalah hewan karnivora. Contoh hewan karnivora adalah kumbang air, capung,
mammalia kecil, katak, ular air, udang satang, itik, dan ikan. Omnivora adalah hewan
pemakan tumbuhan dan hewan lain. Contohnya ikan karper kaca, burung mandar, dan
penyu peta palsu. Dalam rantai makanan di danau, mereka memakan ikan yang lebih
kecil, serangga, dan tumbuhan yang hidup di tepi danau.
3. Predator
Konsumen teratas adalah predator
atau pemangsa tingkat tinggi di dalam siklus rantai makanan di danau. Misalnya
elang, bangau dan ikan pike. Ikan pike adalah pemangsa bermulut besar dan
bergigi tajam. Sosoknya besar dan menakutkan. Ia termasuk hewan ganas yang
memakan berbagai jenis ikan, katak, burung air dan mammalia kecil.
4. Pengurai/decomposer
Komponen penting yang berperan dalam
rantai makanan di danau adalah pengurai atau dekomposer. Mereka berguna untuk
merombak bangkai hewan yang telah mati, dedaunan dan tumbuhan yang gugur di
danau untuk dipecah menjadi zat hara yang berguna bagi produsen. Contoh
pengurai di danau adalah siput, cacing, dan bakteri.
Fungsi ekosistem danau
Danau
sebagai suatu ekosistem perairan tergenang memiliki beberapa fungsi diantaranya
adalah :
1. Sumber plasma nuftah; tempat berlangsungnya siklus
hidup jenis flora dan fauna yang penting
2. Sumber air yang dapat digunakan langsung oleh
masyarakat sekitarnya (rumah tangga, industri dan pertanian);
3. Reservoir alam tempat penyimpanan kelebihan air
yang berasal dari air hujan, aliran permukaan, sungai-sungai atau sumber-sumber
air bawah tanah; juga berfungsi sebagai pengendali banjir
4. Memelihara iklim mikro, dimana keberadaan ekosistem
danau dapat mempengaruhi kelembaban dan tingkat curah hujan setempat
5. Sumber daya energi terbarukan sebagai penghasil
energi hidraulik untuk PLTA
6. Sarana pendidikan, rekreasi dan objek wisata
7.
Mengurangi atau menguraikan bahan pencemar; namun bila melebihi daya tampungnya
akan terkena dampak dan kerusakan
DAFTAR
PUSTAKA
Barus, Ternala Alexander. 2002.Pengantar
Limnologi. Medan : Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sumatera Utara.
Odum, E.P., 1971. Dasar-dasar Ekologi.
Yogyakarta :Gajah Mada University Press.
Michael, P., 1994. Metode Ekologi Untuk
Penyelidikan Ladang Dan Laboratorium.Jakarta :UI Press.
Thohir, K.A. 1991. Butir-butir Tata Lingkungan
. Jakarta :Rineka Cipta.
. Jakarta :Rineka Cipta.
Anonim. 2008. Definisi/Pengertian Danau, Macam/Jenis & Fungsi
Danau Di Indonesia - Belajar Geografi, (online), diakses dari http://organisasi.org/definisi-pengertian-danau-macam-jenis-fungsi-danau-di-indonesia-belajar-geografi pada tanggal 11 April 2011 pukul 15.00 WIB
Anonim. ____. Ekosistem Danau, (online), diakses dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18073/4/Chapter%20II.pdf pada
tanggal 11 April 2011 pukul 15.00 WIB.
Anonim.____.Ekosistem
Perairan,(online), diakses dari http://www.scribd.com/doc/9739611/EKOSISTEM-PERAIRAN pada
tanggal 14 April 2011 pukul 18.00 WIB.
Anonim.____.
Pengertian Penyusun Jenis dan peran Ekosistem, (online), diakses dari http://www.sentra-edukasi.com/2010/04/pengertianpenyusunjenis-peran-ekosistem.html pada
tanggal 14 April 2011 Pukul 18.00 WIB.

Komentar
Posting Komentar